Langsung ke konten utama

Mencintai Rasulullah



Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatu sahabat semua...Kali ini saya, Devanda ingin menulis tentang mencintai Rasulullah SAW. Semoga sahabat semua berkenan membaca :)
            Rasulullah adalah lelaki termulia di dunia ini. Kekasih Allah yang patut diteladani. Dari mulai perjuangannya menegakkan agamaNya hingga dalam lingkup kehidupan sehari-hari pun banyak yang dapat kita teladani dari beliau SAW.  Tak dapat dipungkiri banyak yang menjadikan beliau idola.
Banyak orang yang “mengaku” mencintai beliau. Koar-koar di media sosial. Maulidan bikin status, shalawatan bikin status, sampe makan jengkol pun bikin status(canda doang). Di dunia maya bak pecinta Rasulullah sejati, tapi nyatanya? Beuh jauh amat.
Katanya cinta Rasul, buang sampah masih sembarangan. Beli pakaian yang kekurangan bahan. Dikit-dikit marah kaya orang kesurupan. Dinasehatin jadi sok budek gak bisa mendengarkan. Shalat udah ditinggalkan, tapi minum khamr jadi kebiasaan. Usaha yang halal dihinakan, tapi judi jadi bahan penghasilan. Al Qur’an dijadikan pajangan, tapi ramalan jadi bahan bacaan.
Katanya cinta Rasul, sunnahnya sama sekali gak dihidupkan. Ngefans sama artis sampai rela berkorban. Ketemu artis idola udah bak dibelikan mobil mewah berharga milyaran. Padahal yang difanskan orang gak berpendidikan. Cuman modal tampang, agama cuman pas-pasan. Shalat cuman waktu ada media yang meliputkan. Hafal Qur’an cuman Al Fatihah, 3 Qulhu sama Al Kautsar doang. Atau malah artisnya bukan Islam. Bahkan bisa jadi gak punya agama yang jadi pedoman.
Katanya cinta Rasul, tapi ngefans sama artis sepanjang tahun. Ngefans sama Rasul cuman pas maulidan. Padahal maulidan cuman sekali dalam 12 bulan. Kalau kalender masehi paling banyak cuman dua kali dalam 12 bulan. Ini bukan fiktif belaka, namun ada dalam kenyataan. Ada banyak orang yang seperti itu. Yang katanya cinta rasul, tapi cuman pas Maulid doang. Hari lain? Bak setan jahiliyah yang berkeliaran.
Mencintai Rasulullah gak harus make maulidan. Gak harus make hadrohan. Mencintai Rasulullah harusnya meneladani beliau sepenuh hati. Mencintai beliau dalam diam itu lebih asyik. Gak pake koar-koar, gak pake segala macem cara cuman buat dapetin predikat “Pecinta Rasulullah” dari orang-orang sekitar.
Mencintai Rasulullah harusnya lebih ke arah meneladani beliau dalam segala hal. Meneladani segala yang diwahyukan atau diperbuat Rasul. Itu cara mencintai Rasulullah yang harus kita sebagai umat Islam lakukan. Memang sungguh berat. Gak semudah yang orang lain bayangkan. Tapi kita harus tetap berusaha meneladani beliau SAW
Saya memang bukanlah orang yang sempurna. Bukanlah orang yang telah meneladani beliau setiap saat. Bukan sang Pecinta Rasulullah Sejati. Tapi apa salahnya buat saling mengingatkan? Apa salahnya buat berubah bersama sahabat semua? Maka saya mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila dalam tulisan saya kali ini banyak yang kurang berkenan. Karena kesalahan itu murni dari diri saya, sedangkan kebenaran hanyalah milik Allah semata. Ingatkan saya apabila ada kesalahan dalam tulisan ini atau tulisan saya yang lainnya.
Syukron katsiran dari sahabat yang berkenan membaca dan mengoreksi kesalahan tulisan saya kali ini.
Salam damai dari saya, Devanda Tasya :)
Wasalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatu
NB : Apabila ada yang bertanya tentang tulisan saya, apakah saya orang yang anti dengan maulidan?Maaf, saya akan bilang tidak. Saya bukan orang yang anti maulidan, tapi juga bukan orang yang suka maulidan. Saya lebih memilih netral, dan saling menghargai pendapat orang lain.
Imogiri, 10 Januari 2016. Pukul 13.23 WIB

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANALISIS SEMIOTIK DALAM IKLAN SEDERHANA

  Nama     :  Devanda Tasya N NIM        :  19107030061 Kelas     : Hukum Etika Periklanan (A)   ANALISIS SEMIOTIK DALAM IKLAN SEDERHANA   1.       Iklan CNN Internasional Resleting terbuka dapat diartikan sebagai kemampuan melihat lebih dalam a.        Penanda            : resleting terbuka b.       Pertanda            : kemampuan melihat lebih dalam c.        Tanda               : resleting terbuka Kesimpulan : sebagai penanda, resleting terbuka tidak memiliki makna apa-apa, hanya sekadar gambar saja. Sedangkan sebagai pertanda resleting diartikan sebagai kemampuan untuk melihat le...

KAITAN ETIKA PERIKLANAN INDONESIA DENGAN HUKUM LAIN YANG BERLAKU DI INDONESIA

  ETIKA PERIKLANAN INDONESIA TENTANG KESEHATAN DIKAITKAN    DENGAN HUKUM YANG BERLAKU DI INDONESIA Tugas Mata Kuliah Hukum dan Etika Periklanan   Disusun Oleh : Nitchia Rahma Althafia                (19107030038) Mifta Nur Rahma                            (19107030039) Husni Aby Muzaki                           (19107030040) Laela Jumrotin Mukharomah     (19107030042) Wisnu Adi Winahyu                       (19107030046) Fadhilah Budiman Hasibuan        (19107030058) Devanda Tasya Nuranita ...